Rabu, 15 Juni 2011

Novel: Ranah Tiga Warna

Judul Buku : Ranah 3 Warna
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 473 Halaman

Novel Ranah 3 Warna merupakan buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara yang lebih dulu menjadi best seller. Jika di buku pertama dipompa semangat kita dengan mantra 'Man Jadda Wajadda', maka dibuku kedua ini penulis menanamkan makna bersabar dengan mantra 'Man Shabara Zafira'.

Kolaborasi dua mantra sakti ajaran pondok pesantren tersebut terbukti ampuh mengantar Alif lulus UMPTN dan menimba ilmu di Universitas Padjajaran. Hal yang diluar dugaan, banyak orang yang sangsi karena Alif merupakan lulusan pondok yang bahkan tidak mengeluarkan ijazah.

Setelah masuk di Unpad jurusan Hubungan Internasional, perjuangan Alif dimulai bersama kawan masa kecilnya sekaligus rivalnya, Randai. Ujian demi ujian dihadapinya selama menimba ilmu, terutama masalah keuangan. Hati saya seakan diiris saat diceritakan masa-masa sulit Alif. Dari berhemat demi kelangsungan hidup, jadi sales door to door, sakit tipes, dirampok, sampai kepergian ayahanda Alif yang mengharukan. 

Ceritanya bergulir sangat alami, seperti cerita orang biasa yang dibalut rasa kecewa, sedih, tidak percaya diri bahkan seringkali Alif merasa lelah dan ingin menyerah. Disinilah kekuatan buku ini, diantara ketidakberdayaan manusia atas satu ujian, kita diminta bersabar. Maka Tuhan akan membantu kita. Beberapa kutipan yang saya sukai:
-menyerah hanya akan menunda pesta kemenangan.
-sabar itu aktif. aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi.
-berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Dan benar saja, kesabaran Alif berbuah manis. Ia bisa membiayai kuliah tanpa meminta uang pada Amaknya di kampung, bahkan bisa mewujudkan mimpinya menginjak benua Amerika dengan mengikuti program pertukaran budaya antara Indonesia dengan Kanada.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah rasa Nasionalis yang sangat deras dituliskan penulis saat Alif menjelaskan mengenai Indonesia pada warga Kanada disana. Juga yang tak kalah menarik adalah salah satu tokoh dalam buku tersebut yang buat saya sangat memikat, Rusdi. Sebagai teman sesama pertukaran pelajar asal Kalimantan, karakter Rusdi sangat unik. Pandai membuat pantun dan membawa bendera merah putih kemana-mana. Lucu sekali.

Buku yang luar biasa, semoga saya punya kesempatan membaca buku ketiganya dan menikmati perjuangan Alif mencapai cita-citanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar